PIDIE JAYA, LUGAS.CO – Mahasiswa Pidie Jaya, Muhammad Rizha, mendesak Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Mon Krueng Meureudu dan Bupati Pidie Jaya, Sibral Malasyi, agar bertanggungjawab terhadap kondisi krisis air yang terjadi selama ini.
“Krisis air di Pidie Jaya terus berlanjut, pasokan air dari PDAM ada yang mati total tanpa pemberitahuan dan ada yang debit air sangat kecil,” kata mahasiswa Pidie Jaya, Muhammad Rizha, Senin, 4 April 2026.
Kata Rizha, kondisi itu memicu kemarahan publik. Kata dia, air sebagai kebutuhan dasar justru sulit diakses, sementara pelayanan yang seharusnya menjadi tanggungjawab PDAM Pidie Jaya dinilai jauh dari kata layak.
“Kondisi ini tidak sekadar gangguan teknis biasa, melainkan bentuk kelalaian serius dalam pelayanan publik,” sebut Rizha.
Rizha menambahkan, air merupakan kebutuhan dasar rakyat, bukan komoditas yang bisa dipermainkan Rizha menambahkan, apa yang terjadi hari ini bukan pelayanan, namun pembiaran.
“Bahkan, bisa disebut sebagai pengkhianatan terhadap amanah rakyat,” tutur Rizha.
Rizha mengaku, masyarakat sudah lelah dengan alasan teknis yang terus diulang tanpa solusi nyata. Menurut Rizha, yang dibutuhkan bukan janji, melainkan tindakan konkret.
“Air mati berhari-hari tanpa pemberitahuan, aliran kecil seperti tidak layak pakai, tagihan melonjak tanpa kejelasan, dan keluhan warga tidak ditanggapi. Ini tidak bisa dibiarkan,” tegas Rizha.
Rizha juga mendesak transparansi dari pihak PDAM terkait pengelolaan anggaran dan kinerja direksi. Rizha mengaku, warga butuh kejelasan dan keseriusan.
“PDAM bukan milik direksi, tapi milik rakyat. Direksi harus bekerja, bukan hanya duduk nyaman tanpa tanggung jawab,” lanjut Rizha.
Selain itu, Rizha turut menyoroti sikap Bupati Pidie Jaya, Sibral Malasyi, yang dinilai belum memberikan respons tegas terhadap krisis ini.
“Jika Bupati tetap diam melihat rakyatnya kesulitan air di tanah sendiri, maka itu sama saja dengan merestui penderitaan ini. Diam adalah bentuk persetujuan,” kritik Rizha.
Rizha menegaskan bahwa, masyarakat tidak akan tinggal diam jika kondisi ini terus berlanjut. Rizha menuntut pihak bertanggungjawab, agar air segera mengalir normal.
“Jika tidak, maka rakyat akan mengambil sikap. Air harus mengalir, atau kursi kekuasaan yang akan digoyang,” ungkap Rizha.
Sementara itu, hingga berita ini ditayangkan, media ini belum berhasil mengkonfirmasikan dengan Direktur PDAM terkait krisis air yang terjadi di Pidie Jaya. [] (rissan/ah)






