Millenial Indonesia Gelar Diskusi Kesultanan dan Alam Peudeun di Jakarta | Lugas.co

Millenial Indonesia Gelar Diskusi Kesultanan dan Alam Peudeun di Jakarta

Minggu, 3 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA, LUGAS.CO – Millenial Indonesia Aceh–Jakarta menggelar diskusi bertajuk Kesultanan dan Alam Peudeung di Cilandak, Jakarta Selatan, Sabtu, 2 Mei 2026.

Diskusi tersebut mengupas tentang Alam Peudeng Sebagai Penjaga Marwah  dan Mengaktualisasi Alam Peudeung di Masa Kini.

Sejumlah nara sumber hadir pada kegiatan tersebut, mulai dari kalangan legislator, akademisi, hingga tokoh muda Aceh.

Sudirman H. Uma, Anggota DPD RI Dapil Aceh, menegaskan bahwa, Aceh telah lama dikenal hingga mancanegara. Ia menyebutkan, Aceh memiliki sejarah panjang sebagai jalur lintas perdagangan dunia, dan menjalin hubungan dengan berbagai negara besar seperti Turki, Arab Saudi, Tiongkok, dan India.

“Aceh mempunyai hubungan dagang dan budaya dengan masyarakat internasional. Namun masyarakat Aceh tidak pernah menggadaikan identitasnya. Nilai kita turun bukan karenal budaya, tetapi karena sikap dan kepribadian kita yang tidak menghargai budaya sendiri,” ujar Haji Uma.

Baca juga:  ICJL Dorong Penguatan Transportasi Massal dan Transisi Berkeadilan

Haji Uma menekankan pentingnya kepemimpinan yang berwibawa dan berintegritas. Menurut Haji Uma, pemimpin harus menjadi teladan, tegas dalam mengambil keputusan, bukan atas dasar kepentingan pribadi, melainkan demi masyarakat.

“Pemimpin harus inklusif, menjaga ukhuwah, memahami masyarakat, serta pandai ‘merasa, bukan merasa pandai,” tutur Haji Uma.

Haji Uma mengingatkan bahwa generasi muda memiliki peran penting sebagai penjaga marwah dan daerah. Di tengah tantangan globalisasi dan pergeseran arus budaya, prinsip dan nilai dasar tidak boleh terkontaminasi.

“Menjaga Aceh berarti menjaga kolaborasi di dalamnya menjaga budaya, ritual, bahasa, dan seni,” ungkap Haji Uma.

Sementara itu, nara sumber lainnya dari kalangan akademisi, Adli Abdullah, memaparkan bahwa simbolisme Alam Peudeung melambangkan semangat Aceh yang tak pernah padam. Ia menyinggung hubungan historis Aceh dengan Turki Usmani sebagai refleksi kedaulatan dan keberanian masyarakat Aceh.

Baca juga:  Ketum Milenial Indonesia Aceh-Jakarta Kritik Dana Otsus dan JKA, Nilai Belum Merata

“Alam Peudeung adalah simbol kedaulatan dan keberanian orang Aceh. Namun kita tidak boleh hanya bangga secara historis, kita juga harus bangga menata masa depan,” sebut Adli Abdullah.

Adli Abdullah menambahkan, kekuasaan tanpa marwah akan kehilangan legitimasi, integritas, keberanian, dan keberpihakan kepada rakyat.

Muhammad Rafsanjani, nara sumber dari kalangan tokoh Muda Aceh, menyoroti tantangan kekinian, berupa erosi budaya dan ketidakmampuan menyaring pengaruh budaya luar, terutama di tengah karakter Aceh yang berlandaskan nilai-nilai Islam. Muhammad Rafsanjani juga mengingatkan, adanya berbagai penyakit sosial yang perlu diantisipasi.

“Langkah strategis ke depan meliputi sinergi lintas elemen, penguatan karakter generasi muda, peningkatan kompetensi ekonomi, pelestarian sejarah, dan pengembangan literasi digital,” tambah Muhammad Rafsanjani.

Baca juga:  Sosok Lena Herliana, Hadirkan Revolusi Transportasi Inklusif di Indonesia 

Muhammad Rafsanjani menambahkan, semangat kebangsaan dan pengabdian harus terus tumbuh. Kata Muhammad Rafsanjani, kita harus bangga disebut orang Aceh.

Sebelumnya, Ketua Umum Millenial Indonesia, Sureza Sulaiman, dalam sambutannya menyampaikan bahwa, Aceh merupakan penghubung berbagai peradaban dunia. Ia menilai diskusi ini membuka khazanah baru bagi generasi muda.

“Belajar Aceh artinya belajar sejarah dunia. Dengan memahami sejarah Aceh, kita tahu betapa kuatnya Indonesia. Ketika kita bersatu, kita bisa melawan apa pun. Sebaliknya, perpecahanlah yang melemahkan kita,” kata Sureza Sulaiman.

Sureza Sulaiman mengucapankan terima kasih kepada seluruh peserta yang hadir dan berharap, diskusi tersebut dapat menambah wawasan serta memperkuat semangat persatuan dan kebangsaan. [] (rissan/red)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Rayakan Satu Dekade Pengabdian, Yayasan IBM Hadirkan Voluntara di Lombok dan Bandung
Sosok Lena Herliana, Hadirkan Revolusi Transportasi Inklusif di Indonesia 
ICJL Dorong Penguatan Transportasi Massal dan Transisi Berkeadilan

Berita Terkait

Minggu, 3 Mei 2026 - 07:12

Millenial Indonesia Gelar Diskusi Kesultanan dan Alam Peudeun di Jakarta

Jumat, 1 Mei 2026 - 09:57

Rayakan Satu Dekade Pengabdian, Yayasan IBM Hadirkan Voluntara di Lombok dan Bandung

Jumat, 24 April 2026 - 09:38

Sosok Lena Herliana, Hadirkan Revolusi Transportasi Inklusif di Indonesia 

Minggu, 29 Maret 2026 - 14:04

ICJL Dorong Penguatan Transportasi Massal dan Transisi Berkeadilan

Berita Terbaru

Daerah

Sujud Terakhir Khatib Jumat Masjid Al-Falah Sigli

Jumat, 1 Mei 2026 - 14:11

Hukum

Harga Minyakita di Pidie Jaya Dijual di Atas HET

Kamis, 30 Apr 2026 - 17:13