YOGYAKARTA, LUGAS.CO – Seekor anak Gajah Sumatera dilaporkan lahir di Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), pada Rabu, 10 Juni 2026. Kelahiran bayi gajah sumatera bernama Nona Seroja mendapat sambutan positif dari Geopix.
“Setiap bayi gajah yang lahir adalah harapan baru. Tetapi pertanyaan pentingnya adalah: apakah kita juga mampu memastikan mereka hidup, tumbuh, dan berkembang hingga dewasa pada habitatnya di alam liar,” ujar Annisa Rahmawati, Senior Wildlife Campaigner Geopix, Minggu, 14 Juni 2026.
Annisa mengingatkan bahwa, kelahiran Nona Seroja bukanlah sekedar sesuatu yang harus disambut dengan gegap gempita sebagai suatu euforia belaka.
“Konservasi satwa liar ini tidak boleh berhenti pada sekedar sebuah momentum kelahiran atau penambahan jumlah populasi, tetapi juga tentang tersedianya ruang untuk hidup dan berkembang dengan baik,” tambah Annisa.
Kata Annisa, dalam kurun waktu sekitar 7 dekade, habitat gajah sumatera rusak sekitar 70 persen, sehingga berdasarkan siaran pers Kementerian Kehutanan pada tahun 2025, hanya menyisakan jumlah sekitar 1.100 ekor di 22 lanskap koridor gajah di Pulau Sumatera.
“Ancaman terhadap para Gajah ini semakin masif. Tidak hanya karena rusaknya habitat, karena alih fungsi untuk komoditas sawit, karet, akasia ataupun tambang, tapi juga virus mematikan pada bayi-bayi gajah,” sebut Annisa.
Annisa menambahkan, kerusakan habitat gajah ini, juga sebagai penanda yang menunjukkan hancurnya infrastruktur ekologis di Pulau Sumatera.
“Publik masih ingat bahwa Tari, anak gajah yang mati pada 2025 akibat infeksi Elephant Endotheliotropic Herpesvirus (EEHV) beberapa hari setelah ulang tahunnya yang kedua. Pada tahun yang sama, anak gajah lain seperti Panton dan Laila juga mengalami nasib serupa,” tambah Annisa.
Annisa menambahkan, kisah Tari mengingatkan bahwa kelahiran hanyalah awal. Bayi-bayi gajah masih harus terus bertahan menghadapi ancaman penyakit, habitat yang rusak, konflik dengan manusia, kawat listrik, racun, jerat, termasuk perburuan.
“Geopix menegaskan bahwa masa depan gajah sumatera tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak yang lahir, melainkan juga oleh seberapa luas hutan, habitat dan koridor mereka yang dilindungi serta bagaimana mereka sejahtera di alam liarnya,” tambah Annisa.
Annisa menambahkan, Gajah Sumatera membutuhkan hutan yang sehat, ruang jelajah yang luas, dan kelompok sosial yang utuh. Menurut Annisa, tanpa habitat yang aman, setiap kelahiran berisiko menjadi harapan yang tidak akan pernah tumbuh dengan baik.
“Selamat datang, Nona Seroja. Semoga kamu tumbuh sehat, hidup liar dan bebas, serta menjadi bagian dari masa depan hutan Sumatera,” tutup Annisa. [] (ril/ah)







